PERTARUHAN DARI, OLEH DAN UNTUK ….


PilihankuJudi dan sabung ayam rasanya sulit lepas dalam dinamika adat dan budaya masyarakat dayak yang ada dihamparan Barito Timur, hampir dalam setiap acara adat baik suku dayak Ma’ayan maupun suku dayak Lawangan selalu diselingi (atau merupakan acara utama) permainan dan pertaruhan, baik itu permainan dadu, kartu hingga sabung ayam, entah sejak kapan adat tersebut ada dan bagaimana terjadinya memang tidak diketahui persis namun memang namun tidaklah bisa dipunggkiri adat tersebut memang sudah sejak lama ada, bahkan dalam kasanah adat suku dayak sudah sejak dulu istilah “Kaki Main dan Kaki Sabung, begitupun dengan jenis permainan “Botur Kartu, Kaleker Liau, Saung Lau” jadi sanggat sulit untuk memahami apakah “judi (pertaruhan)” itu adat atau judi (pertaruhan) bagian dari adat istiadat.

Pertaruhan (judi) yang sudah mengakar dan menjadi kebiasaan yang kemudian dipandang sebagai adat bagi suku dayak khususnya diBarito Timur, kalau dilihat dari sisi negatif memang sangatlah buruk, tapi disisi lain banyak hal yang bisa kita petik, yang jelas dalam setiap pertaruhan sangatlah penting menjaga sportifitas dalam bermain sesuai kesepakatan taruhan, serta sikap yang lapang dada dalam menerima kekalahan, serta banyak hal – hal lainnya yang bisa kita petik dan ambil sisi baiknya.

Nuansa rintih dan jerit dari derita nestapa yang dirasakan oleh masyarakat sungguh tergambar dengan jelas. Bermula dari tercerabutnya pemimpin dan kepemimpinan dari akarnya (masyarakat). Artinya, pemimpin dan kepemimpinan sungguh tak perduli akan rakyatnya; akan tanah airnya; akan segenap elemen yang ada di sekelilingnya. Yang harus diingat, sekali kesalahan terjadi, maka memperbaikinya tidak semudah yang kita kira. Dalam bahasa lain, kesalahan pemimpin atau kesalahan masyarakat dalam memilih pemimpin bermakna ganda. Kesalahan itu tidak hanya kesalahan terhadap kita dan keadaan masa kini; tetapi yang jauh lebih berbahaya; itu adalah kesalahan kita (yang juga berakibat buruk) terhadap generasi mendatang.

Pada saat Pileg nanti, ketika kita masuk ke bilik suara, sebaiknya jangan membayangkan bahwa kita akan memberi suara kepada “Calon Wakil” kita. Karena masyarakat yang akan memilih, jelaslah bahwa masyarakat tidak boleh lagi menyalahkan siapa-siapa atas akibat dari pilihannya. Kini, masyarakat adalah pemain sekaligus wasit.

Apapun yang akan dirasakan oleh masyarakat nanti, semua bermula dari masyarakat juga. Baik itu adalah “dari, oleh, dan untuk” masyarakat. (Jika) Buruk ? ya, itu juga buah “dari, oleh, dan untuk” yang sama. Ya tohh ? Masyarakatlah yang menanam dan masyarakatlah yang akan merasakan hasilnya.

Jika disamakan antara “Judi” dan pertaruhan masa depan Bartim, maka Saya memprediksikan bahwa “pertaruhan”  masih dimenangkan oleh “pemain” yang membawa modal uang yang besar. Belum akan ada “pemain” dengan modal “sedikit” bernasib mujur. Tidak peduli apakah dia orang yang pantas dan memang harus didukung untuk menjadi penyalur aspirasi, jika dia tidak bermodal, maka “wassalam”. Silahkan berdiri dan tinggalkan arena menuju tempat parkir motor mumpung masih punya uang gasan membayar uang parkir.  Orang lebih memilih untuk mendapatkan jatah belanja 3 hari kedepan untuk menjadi wakil mereka 5 tahun kedepan. Yahh… memang tidak ada sesuatu yang pasti, tetapi yang pasti (dan belum tentu juga pasti ada), ada orang yang kalah dalam berjudi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: