POLITIK, ANTARA STRATEGI DAN KARAMPUT


ngapusi-bohongTahun Politik sepertinya akan diwarnai pandangan dan cibir yang menyatakan bahwa politik sama dengan Karamput. Kosakata yang sama dalam bahasa Jawa adalah Ngapusi atau Tipu-tipu. Sangatlah sulit untuk meyakinkan lawan bicara yang memandang bahwa “politik adalah Karamput” dengan pemahaman bahwa politik itu sama sekali bukan Karamput. Akhirnya, dengan berbagai argumentasi dan analogi, biasanya pembicaraan berakhir dengan pernyataan dari lawan bicara berbunyi: “Ya, politik memang bukan Karamput”. Meskipun demikian, saya tetap tidak yakin lawan bicara saya tadi sudah benar-benar yakin bahwa politik bukanlah Karamput atau tipu-tipu…….

Karamput atau bukan?

Harus diakui bahwa politik di sekitar kita memang identik dengan Karamput atau bohong. Bahkan politik dan Karamput sudah sangat sulit dibedakan.

Harus diakui, argumentasi lawan bicara saya yang memperkuat pernyataannya dengan mengemukakan argumentasi faktual bahwa hampir semua politikus di Barito Timur ini adalah pangaramput, memang cukup berdasar. Tetapi saya jelas menolak keras jika atas dasar itu maka pernyataan bahwa politik adalah karamput jadi benar dan sah adanya.

Praktik politik yang kotor di sekitar kita bukan terjadi karena politik itu kotor, tetapi karena pelaku politiknya yang kotor. Bukan ilmu politiknya yang salah, melainkan (moralitas) orang yang mempraktikkan ilmu politik itulah yang keliru.

Politik sebagai ilmu tidak beda dengan ilmu lainnya. Mengutip kalimat bijak Soeharto, mantan “Boss Orde Baru” yang mengatakan bahwa “Ilmu itu ibarat sebilah pedang yang baik atau buruk kegunaannya tergantung kepada orang yang menggunakannya”.

Makanya sudah lama ada Fakultas Ilmu Politik. Jika politik sama dengan Karamput dan politik itu (memang) kotor, kenapa tidak ada Fakultas Ilmu Karamput ? Kenapa ada gelar SIP atau S.Sos dan kenapa tidak ada gelar S.I.Kar. untuk Sarjana Ilmu Karamput ?

Ketika orang mengatakan bahwa hampir semua janji politik di Bartim selama ini adalah janji karamput, saya mengakui hal itu benar. Masalahnya, kenapa kita sampai “kemasukan” janji karamput ? Menurut saya, itu karena kesalahan kita juga. Kenapa kita tidak mampu mendeteksi sejak dini bahwa janji itu merujuk dengan kuat sebagai sebuah karamput semata ?

Politik itu strategi. Saya kemukakan satu contoh. Jika di satu ruas jalan, di sebelah kiri jalan adalah kawasan memancing yang “mamatuk” dan ketika saya memancing saya parkir motor saya di sebelah kanan, maka itu adalah strategi saya. Jika orang terpengaruh dengan parkir motor di sebelah kanan lalu memancing ke arah sisi kanan jalan, maka orang itu hanyalah korban dari strategi saya. Di titik ini saya tidak bakaramput. Jika di parkir motor saya di sisi kanan itu saya pasang tulisan “Silahkan Mancing Ke Kanan” untuk membuat orang-orang salah sarah, maka perbuatan saya itu adalah perbuatan bakaramput.

Saya kemukakan analogi lain. Dua orang laki-laki miskin sedang merayu seorang perempuan. Ketika sang perempuan mengatakan ingin punya rumah mewah, laki-laki pertama menjawab, “Saya akan buatkan rumah mewah untukmu”. Untuk impian memiliki mobil mewah jawabnya, “Saya akan belikan mobil mewah untukmu”. Untuk impian memiliki emas permata berlimpah jawabnya, “Saya akan belikan emas permata berlimpah untukmu”. Laki-laki kedua menjawab semua pertanyaan, keinginan dan impian sang perempuan dengan kalimat, “Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk memenuhinya”.

Bisakah anda membedakan laki-laki mana yang memainkan strategi dan laki-laki mana yang memainkan karamput ?

Seringkali saya mendengar ketika seseorang dibohongi atau ditipu oleh seseorang, muncul kalimat, “Ah, dipolitikinya lagi aku ni…”. Itu memang membuat arti bahwa kata “dipolitikinya” sama dengan “dikaramputinya” yang berarti bahwa kata dasar “politik” dan kata dasar “karamput” tidak berbeda arti. Anda harus mengerti bahwa politik itu bukan karamput. Yang bakaramput adalah orangnya, bukan politiknya.

Tag:,

2 responses to “POLITIK, ANTARA STRATEGI DAN KARAMPUT”

  1. yayuano m.suba says :

    opini: yang penting ada acem/duit nya juga,,? pemerintah ga mikir masyrakat juga.”” tingkatkan bartim ke koridor penipuan,, apa lg pejabat sekarang lelet. KEMUNGKINAN banyak habis duit buat acem,,,,

  2. dme1612 says :

    my website…

    http://tadika.tk

    terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: