TEAM BUILDING


Seseorang bercerita kepada saya bagaimana seharusnya menghargai seseorang yang menjadi bagian dari kita. Apakah dia anggota keluarga, teman sekelas, teman organisasi, atau teman dekat kita. Dia sempat menyebutkan sumber cerita itu, tetapi saya tidak benar-benar menyimak satu persatu obrolan kami didalam mobil karena posisi saya sedang mengemudi pada saat itu. Maaf apabila cerita ini mengulang kisah yang pernah ada atau sudah diceritakan oleh  penulis lain. Kisahnya seperti berikut dibawah ini.

Diceritakan empat orang kawan yang terlibat dalam satu urusan penting. Mereka masing-masing bernama Kepala, Tangan, Kaki dan Pantat. Seperti biasa dalam satu kelompok pasti ada satu orang yang memegang peranan penting. Anda pasti tahu bahwa kepala adalah orang yang paling berperan. Kepala berkata bahwa tanpa dia kelompok mereka tidak akan menjadi besar. Tidak akan ada ide kreatif dan solusi yang bijaksana jika ada masalah atau kesulitan.

Tangan tidak mau kalah mendengar kata-kata Kepala. “Memang benar yang Kepala katakan. Tetapi jika tidak ada aku yang bertangan dingin, ide Kepala tidak akan tercipta. Masalah tidak akan dapat ditangani. Untuk itu akulah sebenarnya yang paling berperan di kelompok ini,” Tangan berkata.

Mendengar kata-kata dua kawannya tadi, Kaki juga menyampaikan apa yang selama ini dia lakukan pada kelompok. “Kawan-kawan semua telah berjasa dalam kelompok kita. Tanpa menyudutkan Tangan, saya berpendapat bahwa Kepala telah menjadi bapak inspirator, pendiri dan penasehat di kelompok ini. Kami, saya dan Tangan, adalah orang yang melakukan segalanya atas dasar ide dan kecerdasan kepala dalam mengarahkan kami. Saya yang menjalankan kelompok ini kemana arah tujuan hingga besar seperti sekarang ini. Untuk itulah kami disebut Kaki-Tangan penguasa kelompok ini.

Kepala kemudian menyadari kesalahan ucapannya diawal tadi. Memang betul kita bertiga ini yang membesarkan kelompok kita. Kemudian mereka bertiga menatap Pantat yang dari awal percakapan selalu terdiam. Kepala adalah seorang yang dikenal ahli komunikasi publik. Dia pintar berkomentar melalui sindiran.

“Didalam kelompok ini ada seorang yang sama sekali belum menunjukkan kinerja yang baik. Selalu membuat kotoran yang menimbulkan bau tak sedap. Saya harus berkata bohong akibat ulah dia. Tangan selalu membersihkan perbuatan buruk yang dia kerjakan. Menutup segala aib yang bisa tercium. Kaki selalu berusaha menghindarkan kita dari apa yang telah dikerjakan orang ini.”

Begitulah sindiran yang terlontar dari mulut Kepala.

Nampaknya Pantat merasa bahwa dialah orang yang dimaksud Kepala. Tidak ada kawan yang berkomentar atas sindiran Kepala. Dan memang benar selama ini hanya dia yang selalu berbuat tidak baik. Menebarkan aroma busuk kelompok mereka seperti hasil suap, korupsi, pencurian, manipulasi dan banyak lagi. Seandainya hasil dari perbuatan baik saja yang dia keluarkan, itu tidak jadi masalah. Tetapi dia juga membocorkan semuanya. Tidak ada yang dia  sembunyikan. Tentunya ini merugikan kelompok. Pantat menjadi sangat kesal karena dianggap selama ini menjadi aib bagi kelompok padahal dia merasa sebagai orang yang paling jujur dibandingkan kawan-kawan lainnya meskipun dia yang paling belakang dan sama sekali tidak cerdas.

Atas sindiran Kepala dan tanpa ada pembelaan dari kawan lainnya, Pantat akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan apa yang selama ini dia kerjakan di kelompok itu. Dia menahan semua kotoran. Dia tidak menghembuskan angin prahara yang ada dikelompok mereka.

Tanpa terasa sudah 3 hari sejak pembicaraan mereka. Kepala menjadi bingung atas kelakuan Pantat. Dia mengalami sakit kepala, bingung dan merasa selalu berputar-putar. Tangan merasa sangat lelah, berkeringat dan lemas. Demikian pula yang dialami oleh Kaki yang sulit melangkah dan merasakan beban berat.

Kemudian Kepala menegur Pantat, “Hai Pantat apa yang telah kamu lakukan. Cepat keluarkan segala kotoran. Jangan kau tahan. Aku tidak bisa berfikir.”

Pantat akhirnya berbicara, “Bukankah aku orang yang paling tidak ada gunanya dalam kelompok ini. Mengapa kamu menjadi pusing atas ulahku. Mengapa tangan tidak kau perintahkan menyingkirkan aku. Bukankan Kaki selalu bisa menghindari aku. Dimana peran penting kalian semua yang selama ini kalian banggakan. Sekarang silahkan berkata, siapa yang paling berperan penting dalam kelompok kita.”

Kepala lalu berkata, “Baiklah aku menyerah, engkaulah yang paling berperan penting dalam kelompok ini. Sekarang cepat keluarkan kotoran dan bau tak sedap. Aku sudah tidak tahan lagi menahan sakit.”

Tanpa ada komando kedua kawan yang lain juga mengatakan hal yang sama.

Sejak saat itu Pantat menjadi orang yang sangat dihormati atas perannya. Jika Kepala dan kaki-tangannya “berulah”, dialah orang yang selalu membocorkan segalanya. Kepala selalu mencari akal agar kelompok mereka tetap selamat meski ada keburukan. Tangan selalu membersihkan segala kotoran yang masih melekat dan menutupinya setelah dikeluarkan oleh Pantat. Sedangkan Kaki selalu mengarahkan Pantat kemana dia seharusnya membuang dan menghembuskan kotoran.

Demikian cerita tersebut. Semoga anda tidak muak dengan cerita ini. Jika ada dilingkungan anda orang yang seperti Pantat, berhati-hatilah dan jangan membencinya. Orang yang paling kita benci bisa jadi adalah orang yang selama ini menjadikan anda sebagai orang terhormat dan bermartabat. Seburuk apapun yang dilakukan oleh seseorang didalam keluarga, kelompok, atau lingkungan seharusnya menjadikan kita lebih bijaksana dan menerima mereka sebagai orang yang paling berperan dalam kehidupan. Tanpa keburukan tidak akan ada kebaikan.

Tag:, , , ,

3 responses to “TEAM BUILDING”

  1. kartika says :

    waw, keren keren keren,hehe

  2. yusami says :

    andaikan saya mampu berbuat se-bijak-sana Pak Akhta, mungkin saya menjadi lebih “terhormat” karena mampu menghormati semua orang walaupun ‘dia’ adalah kepala yang berada di bawah ‘pantat’.

  3. roby says :

    i’ll give this article to my boss.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: