Manajemen Miss-Komunikasi


Rumah Sakit

Prita Mulyasari mengeluhkan pelayanan kesehatan oleh RS. Omni “Internasional”. Kemaren, seorang pasien mengeluh kepada istri saya tentang pelayanan Askeskin (Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin) di Puskesmas. Askeskin adalah program Departemen Kesehatan yang memberikan pelayanan gratis bagi keluarga miskin. Program itu adalah salah satu tanggung jawab pemerintah yang dipimpin oleh Bapak SBY yang menjadi idola saya terhadap rakyat Indonesia yang tidak mampu. Meskipun gratis tapi tidak berarti dilaksanakan secara asal-asalan lho!

Lanjut cerita, Sang ibu yang keluarganya menderita sakit dan telah dirawat melapor pada istri saya diminta membayar biaya perawatan Rp. 400ribu lebih oleh Puskesmas padahal beliau pemegang kartu Askeskin. Tentu saja istri saya “mencak-mencak” kepada staffnya yang telah menarik biaya pada pasien Askeskin. Dengan tegas istri saya langsung mengembalikan uang yang telah dibayarkan dan meminta maaf atas kejadian itu pada ibu tadi.

Untungnya Sang Ibu langsung melaporkan kejadian itu pada pimpinan Puskesmas meskipun telah membayar dan menerima kuitansi pembayaran sehingga istri saya dapat menegur staffnya yang “goblok”. Lain soal jika ketidak puasan ibu tadi dilampiaskan dengan membawa kuitansi tadi ke angota DPRD atau Bupati. Dapat dipastikan istri saya langsung dicopot dari kursi pimpinan atau kalo masih diperlukan sebagai pimpinan paling tidak kena semprot habis-habisan oleh banyak pejabat.

Untungnya lagi istri saya langsung mengakui kesalahan staffnya dan meminta maaf kepada ibu tadi sehingga sang ibu tidak perlu curhat kepada tetangga-tetangganya yang kemungkinan bisa didengar oleh pejabat kecamatan / kabupaten / anggota dewan.

PerawatItu adalah salah satu contoh miss-komunikasi yang sering terjadi di pelayanan kesehatan antara pasien dengan RS / Puskesmas. Terutama pasien yang tidak sembuh setelah berobat, pasti gak puas dan membawa ketidak puasannya pulang sambil bercerita bahwa dokternya “goblok” ngasih obat yang gak bener atau dosisnya gak pas atau macam-macam alasan lainnya sampai pernah ada gosip seseorang sakit gigi dan berobat pada istri saya dan gak sembuh dan kabarnya orang tersebut akhirnya mati … ayak-ayak wae. Semua komplain itu ditanggapi dengan kepala dingin dan menjadi masukan untuk perbaikan dikemudian hari apabila langsung diutarakan.

Yang tidak biasa adalah komplain atas miss-komunikasi yang dilaporkan pada polisi / kejaksaan. Tidak seharusnya komplain atas pelayanan kesehatan ditanggapi seserius itu. Para dokter / perawat harusnya maklum kalau ada pasien yang nggak sembuh dari sakit kemudian “mencak-mencak” karena hal itu sudah umum terjadi, kan gak semua orang sembuh setelah berobat. Para “mafioso” menangkap prospektif bisnis atas kasus tersebut dengan menggunakan pasal 310 junto 311 KUHP yang sering digunakan untuk mencari keuntungan. Dan pasal-pasal lainnya yang dapat dibuat untuk menakut-nakuti orang agar memperkaya mereka dengan uang sogokan.

Jadi, jangan terlalu serius menanggapi masalah apapun. Santai saja. Jangan sampai anda berurusan dengan “mafioso” karena begitu anda mendapat masalah dengan mereka anda harus siap taat pada UUD. Biarlah para penjahat saja yang diurus oleh “mafioso”, jangan sampai warga yang baik berurusan dengan mereka atau anda lemparkan pada mereka. Hiduplah dengan tenang dan damai.

Tag:, , , ,

2 responses to “Manajemen Miss-Komunikasi”

  1. Anam says :

    Met gabung di dunia maya, moga gak kena UU kaya Prita.
    Ya begitulah menghadapi masyarakat yang banyak. Kami pernah menangani anak yg pinsan di sekolah kami, karena lama gak nyadar lalu kami bawa ke RSU T.Layang, begitu hari ke-3 bapaknya datang ke sekolah minta ganti uang dan menyalahkan sekolah kenapa di bawa ke RSU?ini namanya miss money

  2. budi says :

    halah… aku kok rada terkejut pada kalimat teraklhir HIDUPLAH DENGAN TENANG DAN DAMAI…. bukankah kalimat itu sering digunakan untuk doa orang yang telah mendahului kita
    betewe…peace, peace,…kaya kampanye damai

    @Budi: lha iya toh, doa kan seharusnya ditujukan bagi yg masih hidup. Kalo sudah mati tidak ada yg dapat menolong selain amalan dan doa anak2nya saja. Lha terus, ngapain kita mendoakan mereka yg sudah mati ya??? Halah… malah bingung aku!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: