“Jangkrik!” Help me……


GuruBaru-baru ini Kepala Sekolah tempat saya mengajar memanggil 5 orang guru pengelola laboratorium dan UKS berkumpul di ruang beliau. Ternyata beliau hendak membagikan uang operasional laboratorium triwulan. Tidak biasanya beliau membagikan uang tersebut karena biasanya bendahara yang melakukan hal itu.

Sampainya diruang beliau, ternyata kami diminta report secara lisan tentang segala apa yang telah dilakukan. Saya pengelola laboratorium bahasa. Saya mendapat kritikan yang paling pedas dibandingkan guru yang lain. Selama tahun ajaran 2008 – 2009 beliau memberikan kritik bahwa Lab. Bahasa yang saya kelola paling sepi dibanding Lab lainnya. Lab. Komputer yang bersebelahan dengan Lab. Bahasa terlihat sering digunakan dibandingkan dengan Lab saya.

Jangkrik…… saya mengumpat dalam hati.

Kenapa saya mengumpat? Mungkin karena saya orang yang nggak bisa menerima kritik. Tapi memang iya saya akui Lab. Bahasa jarang digunakan. Beliau meminta kepada saya agar setiap hari ada kelas yang menggunakan lab bahasa. Lab itu lebih dikususkan pada pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan guru Bahasa Inggris yang asli cuma ada 3 orang termasuk saya, yang 2 orang palsu alias guru Bahasa Indonesia yang ngajar Inggris.

Lab Bahasa yang sudah “multi media” alias menggunakan perangkat komputer lengkap dengan fasilitas koneksi internet (hebat toh…) tidak maksimal karena guru asli dan palsu nggak bisa mengoperasikan komputer. Kalo pun bisa paling cuma ngetik. Hanya Mr. Akhta yang setiap hari mencoba kalang kabut mengisi kelas di lab hanya untuk memperlihatkan kepada kepala sekolah bahwa lab nya dipake KBM. Di banding dengan Lab Komputer yang ke 4 gurunya pasti bisa komputer jelas lebih rame. Lha wong 4 : 1. Kalo saya tiap hari membawa kelas se situ kayak apa coba? Saya ngajar kan ndak tiap hari. Dan lagi, materi Bahasa Inggris kan ndak Cuma Listening sama Speaking doang. Kan ada Writing sama Reading. Masak pelajaran writing ama reading harus ke lab? Kan bukan tempatnya meskipun bisa. Di lab bahasa tidak tersedia papan tulis untuk latihan nulis atau saya menjelaskan grammar.

Pelatihan bukan solusi yang manjur. Guru-guru dilatih komputer tapi kemudian mereka tetap memilih cara lama karena mereka merasa tersiksa mengajar pake media komputer, ujar mereka. Walah… kayak apa ini! “Jangkrik” kayaknya akan menjadi kawan baik saya ketika kepala sekolah bertanya tentang kemajuan lab saya. Lha wong itu tugas beliau untuk bertanya. Tapi saya gak pantas ngomong jangkrik dengan keras. Wis, kalo saya bosan dengan jangkrik akan saya ganti “asu”.

One response to ““Jangkrik!” Help me……”

  1. Agung Suparjono says :

    wes mas, ngmong ae sekaligus nyanyi lagunya waljinnah, “JANGKRIK GENGGONG”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: