Hukum dan Penegak Hukum


HukumHukum berkaitan dengan hukuman. Hukuman adalah balasan akibat perbuatan jahat atau pelanggaran dari kesepakatan bersama yang berfungsi untuk mengatur atau membuat sistim budaya di kehidupan masyarakat. Statement itu menurut pendapat saya sarjana sastra, bukan sarjana hukum. Tentunya sarjana hukum akan lebih jelas lagi dalam mendefinisikan hukuman seperti orang “curhat” juga pantas untuk dihukum karena merupakan fitnah. “Penegak Hukum” adalah orang atau lembaga yang berwenang untuk melakukan penyelidikan, penyidikan, penahanan dan persidangan atas suatu sengketa / perkara yang diduga atau sudah melanggar hukum, itu masih menurut pendapat saya orang yang gak ngerti hukum.

Dalam hati saya bertanya, apakah penegak hukum tidak pernah melanggar hukum? Saya jawab juga, pasti pernah ada penegak hukum yang melanggar hukum lha wong mereka juga manusia, yang pasti mereka selalu disebut “oknum” yaitu sekelompok kecil orang didalam suatu kelompok / kumpulan masyarakat yang berbuat tidak tertib, nyleneh, atau melanggar norma. “Sekelompok kecil”, seberapa kecilnya mereka?

Ada Ketua KPK dan mantan Kapolres yang didakwa melakukan pembunuhan berencana, ada 2 orang jaksa yang didakwa menjual barang bukti narkoba, ada jaksa yang dihukum karena terbukti menerima suap, ada polisi yang menghajar tahanan untuk mencari pengakuan. Itu adalah berita-berita besar yang menjadi sorotan publik. Berikut ini akan saya berikan gambaran bagaimana praktek kejahatan yang setiap hari terjadi di lembaga penegak hukum kita. Agar tidak menyinggung orang lain biar diri saya sendiri yang menjadi subjek ilustrasi.

Sebagai perumpamaan saya adalah seorang pengusaha yang sedang bermasalah dengan rekan pengusaha lain. Saya dilaporkan ke polisi melakukan penipuan dan penggelapan oleh rekan saya. Datang dua orang polisi berpakaian seragam menyatakan bahwa saya telah dilaporkan oleh rekan saya. Polisi tersebut meminta sejumlah uang pada saya untuk menyelesaikan urusan itu diluar kantor polisi. Ujung-ujungnya saya tetap ditahan karena urusannya gak selesai. Pada saat di BAP (berita acara pemeriksaan) saya dikenai pasal 372 junto 378 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. Oleh penyidik saya dimintai uang untuk mengurangi pasal yang disebutkan yaitu 372 saja atau 378 saja yang ancamannya cuma 2 tahun penjara. Setelah masuk sel dan bercampur dengan tahanan lain, saya berkenalan dengan pencopet yang bercerita dimintai polisi uang agar tidak di “dor” atau digebukin.

Setelah 20 hari ditahan saya dikirim ke Kejaksaan untuk “kenalan” dengan sang jaksa sebelum diantar kerutan. Saat kenalan itu sang jaksa menawarkan “pembelaan”. Dengan uang “pembelaan” hukuman saya akan dikurangi, begitu kata sang jaksa.

Setelah “berkenalan”, polisi membawa saya kerutan. Masuk kedalam rutan, saya harus “ditelanjangi” untuk digeledah. Padahal dalam pengawalan polisi saya gak boleh membawa apa-apa kecuali tas plastik putih berisi pakaian secukupnya. Ternyata uang bekal saya dirampas petugas dengan alasan agar tidak dirampok oleh penghuni rutan lain.

Didalam Rutan saya harus masuk sel “karantina” yang panasnya minta ampun dan bau WC yang menyengat. “Tamping” yaitu tahanan kepercayaan penjaga rutan yang juga tahanan, galaknya minta ampun dan tukang gebuk. Mereka bertugas meminta uang kepada penghuni karantina sebelum dikirim ke blok. Bagi tahanan yang tidak setor uang akan diletakkan pada blok yang “keamanannya” tidak dilindungi sipir. Disitu jelas ”ladang” para sipir mengeruk keuntungan dari tahanan. Perlu diketahui tarif “menginap” sementara di tiap blok bervariasi. Di blok yang pengamanan “khusus” (biasanya untuk para pejabat / orang kaya yang terkena kasus) “sewa” kamarnya 1.5-3jt/bulan. Mereka menempati 1 kamar yang dihuni 4 orang. Dan untuk blok “umum” ditarif Rp. 150-200rb/bln dengan ukuran kamar yang sama namun kapasitasnya 10-14 orang.

Bagaimana bila tahanan tidak membayar ongkos “sewa”? Mereka akan ditempatkan pada blok yang “asli penjara” yaitu tempat yang benar-benar sangat tidak nyaman baik lingkungan dan orang-orangnya. Setelah putusan sidang mereka akan di ”layar” yaitu dikirim Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang jauh dan tentunya lebih keras lagi kehidupannya.

Rutan adalah surga bagi para bandar dan pecandu narkoba. Ditempat itu transaksi sangat tinggi dan “dibina” oleh para sipir. Kabarnya ada pabrik sabu-sabu didalam rutan yang terletak di kabupaten Sidoarjo. Kalau anda kira mereka tersiksa ditempat itu, salah besar! Urusan seks bisa diselesaikan dengan menyewa kamar yang disediakan sipir melalui tamping. Tinggal meminta istri / pacar masuk “kamar kusus” dan … Disana pun ada kantin yang masakannya sangat beragam. Semua tergantung pada UUD (bukan Undang-Undang Dasar tapi Ujung-Ujungnya Duit).

Dalam persidangan pun biasanya jaksa sudah memberikan uang “pembelaan” pada hakim untuk mengurangi hukuman. Jika hakim tidak mendapat “loby” biasanya panitera akan “berkenalan” dengan terdakwa. Dan bukan lagi rahasia bahwa banyak kasus besar hanya mendapat hukuman sangat ringan seperti pencopet teman saya yang gak jadi di “dor” polisi dan hanya dihukum 3 bulan saja padahal korban-korbanya banyak yang stres atau terluka karena sabetan goloknya. Tapi ada kawan saya yang mengambil satu susu kaleng di supermarket buat anaknya yang sedang sakit diganjar 1 tahun penjara.

Ilustrasi itu menggambarkan betapa “kecil” (sedikit)nya oknum penegak hukum kita yang sengaja menyelewengkan atau memanfaatkan situasi di dunia peradilan kita. Praktek tersebut berjalan setiap hari seolah sudah menjadi bagian dari sistem. Bila hal tersebut tidak terjadi, saya orang awam yang mungkin memberikan masukan bagi penegak hukum kita bagaimana mencari “penghasilan” dari para penjahat. Pencopet kawan saya tidak setiap hari mendapat hasil, namun ilustrasi saya menggambarkan kejahatan korupsi dan manipulasi yang setiap hari membawa keuntungan bagi pelakunya. Dan kalau “sistim” itu berjalan, tentunya melibatkan orang yang sangat banyak (bukan oknum) agar praktek tersebut bertahan lama dan tidak dapat di “bongkar” oleh orang yang gak suka duit.

Semoga saya tidak dipenjara hanya karena memberikan ilustrasi yang bersumber dari inspirasi saya dan cerita pencopet kawan saya yang gak tau benar atau tidaknya. Saya jadi takut nulis macem-macem di blok saya. Takut dipenjara karena menfitnah lembaga peradilan. Sekali lagi… pak polisi, pak jaksa, pak hakim, jangan tersinggung ya….please! Kalau bersih, nggak perlu risih.

Tag:, , , ,

One response to “Hukum dan Penegak Hukum”

  1. budies says :

    jadi inget salah satu BUMN yang cukup sukses karena mempunyai semboyan “MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH”
    mungkinkah hukum kita mengikuti semboyan itu…”MENGATASI HUKUM TANPA HUKUM”
    lho siapa tahu khan…ikutan sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: