Guru Profesional


Membaca tulisan guru ngeblog saya, “Guru tidak profesional” di http://www.budies.co.nr saya ingat pernah ditanya dosen saya tentang arti profesional. Saya ndak bisa njawab. Profesional kata dosen saya apabila:

  1. Memiliki ijazah / sertifikat profesional dengan mengikuti praktikum dan ujian profesi dibuktikan dengan adanya nilai akademik praktikum.
  2. Bekerja dengan baik dan bertanggung jawab pada disiplin ilmu yang sesuai dengan ijazah / sertifikat profesinya.
  3. Tidak bekerja pada bidang diluar disiplin ilmunya.

Jika memenuhi ketiga hal diatas, maka seseorang berhak menerima tunjangan profesi seperti yg dijelaskan dalam Undang-undang no 14 th 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 15 ayat 1. Jelasnya adalah, seseorang yang menerima tunjangan profesi dia disebut tenaga profesional.

Jadi, sebutan profesional bukan untuk dijadikan bahan untuk berbangga diri namun gelar itu sebagai reward atas sertifikat dan pekerjaan yang telah dilaksanakan. Juga bukan pula sebagai pengelompokan bidang pekerjaan. Sudah sepantasnya seseorang dihargai atas pekerjaan dengan memberikan gaji dan tunjangan-tunjangan.

Yang sudah dapat tunjangan profesi jangan merasa besar kepala karena disebut profesional dan anda tetap tidak berhak menilai pekerjaan seseorang dikerjakan secara profesional atau tidak. Anda harus bersukur karena dapat uang lebih.  Tunjangan profesi ibarat dapat durian jatuh. Melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya adalah kewajiban kita semua yang telah mendapatkan tugas. Kita patut berterima kasih pada penggagas tunjangan profesi yang berfikir bagaimana agar guru dan dosen gajinya tidak seperti Umar Bakri. Jasa merekalah yang telah mengangkat kehidupan ekonomi guru menjadi baik.

Bekerjalah sebaik-baiknya. Jangan menilai pekerjaan orang lain kalo itu bukan kewenangan anda. Jangan iri pada orang yang dapat durian jatuh. Karena rejeki adalah urusan Tuhan dan jangan mengurusi urusannya Tuhan. Lihatlah tawa anak-anak didik anda. Apakah itu belum cukup menghibur anda.

6 responses to “Guru Profesional”

  1. subpokjepang says :

    saya senang melihat tawa anak-anak didik saya, lumayan menghibur

  2. Agung Suparjono says :

    Profesional di bidangna memang harus,dan kita sebagai guru diwajibkan untuk memilikinya. semoga kita tetap dapat menjaga profesionalitas tanpa menghilangkan unsur kreativitas

  3. suprapta22663 says :

    durian jatuh kalo …kena orang bisa sakit …..sekarang tergantung pada diri sendiri,apakah sama seperti semula,menurun atau meningkat dedikasi kita setelah mendapat tunjangan profesional ?
    .
    .
    @suprapta: dedikasi harusnya meningkat karena sudah ndak mikir mancing / ngojek buat cari tambahan, kecuali guru Indonesia mentalnya ya..gitu deh.

  4. budi says :

    ya saya sependapat dengan definisi profesi-profesional. kebutuhan dilapangan menuntut kita tidak profesional menurut definisi-definisi. sehingga kriteria profesional menurut saya juga harus ditambah, bahkan justru menurut saya tidak kalah penting, yaitu unjuk kerja dan hasil kerja. Gini maksudnya profesional bukan semata dikaitkan dengan latar belakang ijazah, tetapi juga dikaitkan dengan kesungguhan dan tanggung jawab terhadap bidang yang diampu

  5. Mia says :

    Za q jg sependapat.Kt hrs bersyukur dh dpt tnjgn tp kt jg jgn trlalu bgga dgn jlkn trsbt

  6. husen says :

    ya.. yaya… itulah indonesia, tapi takut juga kebiasaan itu di klaim malaysia, ha. ha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: