Umar Bakri is death


miringPagi tadi pukul 09.00  karena lepas tugas mengajar saya mempunyai kesempatan menjemput anak saya pulang sekolah. Anak saya baru kelas 2 di SDN Ampah 3 Kab. Barito Timur. Biasanya dia pulang berjalan kaki karena kami orang tuanya bekerja pada jam-jam itu. Dulu kabarnya sekolah itu adalah sekolah favorit. Itulah sebabnya dia saya titipkan untuk belajar disitu. Kenyataan sekarang ini sungguh berbeda. Saya hampir tidak pernah melihat sekolah itu mengadakan upacara bendera sampai saya tidak tahu apakah anak saya punya topi apa tidak. Jam pulangnya pun tidak pasti, seringkali anak-anak pulang lebih dahulu karena gurunya hendak kepasar. Awal semester lalu saya sempat kaget ketika mengangkat tas sekolah anak saya yang meratnya naudzubillah sanggup mematahkan pinggang orang yang sakit encok. Saya lihat semua buku dibawanya karena menurut penuturannya gurunya tidak memberi jadwal pelajaran maka pada saat itu kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah 3 minggu berjalan. Saya datangi sekolah dan menanyakan jadwal mata pelajarannya yang pada saat itu juga secara sepontan dibuatlah jadwal dihadapan saya oleh wali kelasnya.

Ini tadi, saya terbengong menunggu anak saya pulang. Hari jum’at biasanya dia pulang jam 09.00 (sesuai jadwal), tapi sudah jam 09.30 dia belum keluar dari kelas sedang kawan-kawannya yang lain sudah berhamburan pulang ada yang sudah sampai dirumah malahan. Merasa aneh, saya beranikan mendatangi kelas padahal saya datang kesitu dengan memakai celana kolor pendek. Betapa terkejutnya saya, anak saya menangis tersengguk sendirian didalam kelas. Karena sendirian saya masuk dan bertanya kenapa. Dia diminta menyelesaikan tugas kelas oleh guru matematika bukan karena anak saya gak bisa matematika (sejak kelas 1 dia ranking 1 dan saya kagum pada otaknya yg cerdas) tapi dia mengerjakan tugas tersebut pada lembar terakhir bukunya.

Naluri orang tua yang selalu membela anaknya membuat rasa malu saya hilang. Dengan bercelana kolor pendek, saya masuk keruang guru menemui guru matematika. Ibu guru sedang tidur-tiduran berbaring di kasur empuk diruang guru sambil hahahihi dengan guru lain. Saya langsung menghampiri dan bertanya mengapa anak saya “dihukum”. Ibu guru menjelaskan karena anak saya mengerjakan tugas dilembar terakhir bukunya. Karena takut tidak cukup maka dia disuruh mengulang menulis lagi soalnya dilembar kertas yang ternyata masih ada sisa kertas dibagian depan buku anak saya.

Oala..bu guru-bu guru. Gitu aja kok pake menghukum “sesadis” itu dengan membiarkan anak dikurung dalam kelas pada jam pulang sekolah. Kenyataannya tugas itu memang hanya perlu satu lembar kertas dengan kekreatifan anak saya yang meletakkan soal yang tidak cukup disamping kanan soal lain. Tanpa merasa bersalah atas kelakuannya meninggalkan siswa menagis dikelas dengan tidur diruang guru, bu guru juga menyampaikan bahwa anak saya nakal karena lambat menulis. “Siapa yang nakal, bu guru apa siswa?”

Ya sudahlah, gak usang diperpanjang. Saya harap pengawas sekolah lebih aktif berkunjung kesekolah. Benahi sekolah-sekolah yang begitu. Jangan merasa bahwa guru-guru yang ada dulu adalah kawan-kawan anda sebelum jadi pengawas sehingga sekarang anda malah lupa pada tugas mengawasi dan memberikan pembenahan.

Untuk para guru PNS. Anda sekarang ini adalah pegawai yang makmur dengan banyaknya tunjangan. Tidak seperti dulu. Maka jangan mengajar seperti dulu. Sekarang ya sekarang, yang keadaan sudah sangat berbeda. Teknologi dan informasi sudah berkembang pesat. Jangan ada sistim dikte pada siswa. Tinggalkan metode klasik dengan metode inofatif dan menyenangkan agar waktu dikelas tidak habis untuk anak-anak mencatat sedangkan anda sibuk mancing / tiduran diruang guru. Dan perlu diingat lagi bahwa sekarang ini banyak orang tua yang kritis seperti saya yang tak segan-segan bertanya bila ada yang tidak beres. Kalo anak saya gak ranking 1 maka saya akan datang kesekolah menanyakan daftar nilai anak saya yang seharusnya setiap guru punya. Kalo tidak punya perangkat itu “awas”? Berarti anda gak suka pada anak saya karena lambat menulis.

Untuk diri saya sendiri, jangan meniru apa yang dilakukan ibu guru. Peserta didik yang nakal adalah hal biasa lha wong mereka masih anak-anak, tapi guru yang “nakal” gak pantas dapat sebutan pahlawan tanpa tanda jasa karena kerja guru sekarang ini enak dapat gaji gede lebih gede daripada istri saya yg dokter gigi…suwer deh! Umar Bakri is death.

Tag:,

3 responses to “Umar Bakri is death”

  1. engeldvh says :

    Hmn….betul pak!! *baru ngerti mode on*🙂
    http://engeldvh.wordpress.com

  2. budi says :

    coba tanyaken… jadwal pelajaran pada kelas rendah, 1-3, pasti bahasa, matematika dlll padahal konon kate-espe dah dijalankan, gimana penerapan tematik di sekolah ini. halah…kayak pengawas, lhawong pengawasnya saja gak pernah tanya macem-macem. tapi apa gak sebaeknya kita semua adalah pengawas?
    .
    .
    @Budi: Iyo pak, memang pada hakekatnya kita semua adalah pengawas pendidikan. Pada saat itu aku pun janji untuk mengkritisi SD Ampah 3 polae anakku ada disitu demi peserta didik semua. Nek ora gelem dikritik ben musuhan karo aku..hehe.

  3. elyhamdan says :

    Story of the best our memory’s
    All start is difficult, there’s no rose without a thorn, there’s no royal road to success, and don’t put off till tomorrow.. what you can do to day!

    Keep writting bos!

    tank’s you…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: