Pesantren Modern vs Tradisional


Penulis tidak bermaksud membandingkan keduanya karena keterbatasan informasi yang di peroleh. Ide menulis didapat karena keterlibatan penulis dalam jajaran tenaga pendidik disebuah pesantren yang ada di tempat tinggalnya.

Sepengetahuan penulis, pondok pesantren sekarang ini dimasukkan dalam satuan pendidikan oleh Departemen Agama sama dengan tingkatan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Untuk tingkat dasar dalam pesantren dikenal tingkatan Ula (setara MI) dan Wustha (setara MTs). Sebagai konsekwuensi dari disamakannya status pondok pesantren dengan lembaga pendidikan formal agama maka dikeluarkanlah dana dari pemerintah ke lembaga / yayasan suwasta sebagai dana Bantuan Operasional Sekolah bagi pondok pesantren yang menerapkan pendidikan tingkat dasar. Pondok pesantren di daerah terpencil yang masih mengandalkan partisipasi masyarakat dalam operasionalnya tentunya mendapatkan setetes embun ditengah kehausan menerima dana BOS tersebut.

Mata pelajaran umum diterapkan. Pada awalnya, mata pelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan pondok pesantren tidak menerapkan mata pelajaran lain selain pelajaran agama yang meliputi akhlak, tauhid, al-quran, dll. Namun kini pondok pesantren yang menerima dana dari pemerintah wajib memberikan pendidikan umum seperti Matematika, IPA, B. Inggris, PPKn, dll. Para santri harus menempuh Ujian Nasional (UN) pada akhir pendidikan mereka agar mendapat ijazah nasional yang diakui oleh pemerintah sebagai bukti tamat pendidikan.

Pondok pesantren modern kebanyakan telah memberikan mata pelajaran umum seperti sekarang ini sebelum diwajibkan oleh Departemen Agama. Sebagai contoh, pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran bergengsi bagi pondok pesantren modern sebagai daya tarik bagi para orang tua untuk mendaftarkan anak mereka. Lulusan Ponpes terkenal jago dalam dua bahasa yaitu Arabic dan English. Jam mata pelajaran umum pun ditambah dengan tidak mengurangi jam mata pelajaran agama. Jam belajar santri bertambah, sehingga jam belajar para santri lebih banyak daripada siswa. Kurikulum diterapkan dengan adanya Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pendidikan (RPP) yang tersusun dan terencana. Para santri mendapat materi dan jadwal belajar yang tepat waktu sesuai dengan kalender pendidikan. Perubahan itu membuat Ponpes mengalami kemajuan yang siknifikan dengan menghasilkan para santri yang bermutu. Kita menyebutnya dengan Pesantren Modern.

Lain halnya dilingkungan Ponpes dimana penulis saat ini terdaftar sebagai tenaga pendidik mata pelajaran umum. Yayasan mencantumkan nama penulis sebagai tenaga pendidik seperti tenaga guru lainnya sebagai syarat menerima bantuan dari pemerintah. Pendidikan tidak berubah dengan mengedepankan pendidikan agama namun tidak menerima mata pelajaran lainnya mendapat porsi yang cukup dalam”kalender pendidikan” mereka. Mata pelajaran umum ibarat “ilmu” yang kurang bermanfaat, maaf kalo bisa dibilang banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Seringkali santri meninggalkan kelas apabila guru mata pelajaran umum masuk. Dan itu tidak mendapatkan tanggapan apapun dari dewan ustad lainnya saat hal tersebut dibawa dalam rapat. Guru umum makan insentif buta dari pemerintah karena tekanan dan tidak diberinya jadwal mengajar didalam kelas. Dalam satu minggu guru hanya mengajar 3jam.

Yang lebih parahnya lagi ternyata Ponpes Tradisional tidak menerapkan standar kompetensi apapun bagi para santri. Selama ini para ustad mengajar dikelas tidak membawa bekal Silabus / RPP. Mereka mengajar sama dengan mereka memberi ceramah dimasjid atau yasinan. Tidak memiliki indikator yang harus diraih. Jam belajar yang semau gue.

Pantaskah para santri menerima itu semua?

Penulis sangat prihatin dengan dikeluarkannya dana dari pemerintah untuk kemajuan dunia pendidikan dilingkungan Ponpes namun tidak mendapatkan kemajuan apapun. Namun yang lebih memprihatinkan bahwa terdapat banyak anak Indonesia yang terdidik namun tidak mendapatkan pendidikan standar sesuai harapan kita semua.

Tag:, ,

5 responses to “Pesantren Modern vs Tradisional”

  1. SYAIFUL says :

    Assalamualaikum Wr. Wbr.
    Salam kenalan dengan saya pada kunjungan pertama ini. anda kelihatannya seorang guru ya, dilihat dari isi blog anda. sama saya juga guru, mau tau kunjungi saja blognya ya.
    muda-mudahan tahun ini kita lebih baik dari tahun sebelumnya. amiin.
    salam ukhuwwah.

  2. koranindependen says :

    Pondok Pesantren mesti mengajarkan ilmu2 umum juga. Jangan sampai kita ketinggalan sains modern dari orang2 kafir. Mereka sudah mencuri kemajuan dari tangan kaum Muslim melalui buku2 pengetahuan yang ditulis Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Al Kindi, dll.
    Kita harus meraih lagi ilmu2 tersebut, dan membangkitkan kemajuan dan kejayaan Islam seperti beberapa abad lalu. Urusan akhirat jangan sampai mengabaikan kehidupan dunia, perlu balance, karena Islam mengajarkan begitu.
    Wassalamu alaikum wa rohmatullahi wa barakatuh, kunjungi juga kami di blog http://koranindependen.wordpress.com

    @Setuju, sebagai tenaga pendidik pasword yg hrs dimiliki untuk mengajar adalah sabar. Semoga para guru/ustad diberi kesabaran untuk membalancekan para santri kita.

  3. tia says :

    ass. Wr. Wb

    saya membutuhkan informasi mengenai pesantren tradisional, yang letaknya masih di pedesaan bahkan mungkin belum terjamah teknologi ..
    apakah anad pernah tahu ?
    terimakasih sebelumnya

    wassalam

  4. Wong Jalur says :

    Sepertinya itu hanya bagian terkecil dari sedikit pesantren tradisional. Tetapi menurt saya sendiri, mungkin wajar jika mereka berbuat seperti itu karena label mereka pesantren tradisional. Mereka berusaha menjaga kelestarian ruh islamiyah yang saat ini mulai hilang pada pesantren modern. Pesantren modern sekarang seperti lupa akan khittahnya, terlalu modernis sehingga menhasilkan lulusan yang jauh dari setengah matang jika ditilik dari dua sisi ilmu umum dan Agama. Dulu, jika seorang telah lulus dari sebuah pesantren, maka ia sudah bisa menyandang gelar orang yang ahli agama, karena buktinya emang ada, bahwa walau hanya nyantri 6 tahun mereka mumpuni dalam hal ilmu agama. Tapi lulusan pesantren modern sekarang?masih sulit untuk dikatakan setengah matang. imbasnya ketika mereka kuliah justru mereka terhanyut dalam paradigma pluralisme, sekularisme, dll.
    Salam kenal.

  5. ofar abdul says :

    asalamualaikum.
    sependapat dengan kang wong jalur.
    lagian, apa sih hebatnya pesantren modern? terus apa anda yakin bisa mengalahkan lulusan pesantren tradisional?
    satu hal yang hanya dimiliki oleh pesantren yang anda bilang tradisional itu, yang tidak dimiliki oleh pesantren modern, atau pesantren apapun, atau lembaga pendidikan manapun, adalah “keikhlasan masyayikh” dalam menyampaikan uswah (bukan hanya transformasi ilmu, tapi aplikasinya juga).
    saya percaya bahwa keikhlasan itulah yang menjadi kunci keberhasilan dan manfaat, bukan program pembelajaran, silabus, standar kompetensi dan istilah istilah antah berantah lainnya.
    afwan.
    wassalamualaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: