Kiamat, antara dekat dan jauh


Membaca tulisan tentang kiamat, saya menggaris bawahi pemikiran saya pada kejadian awan hidrogen yang akan menabrak galaksi Bima Sakti tempat bumi bermukim pada 40.000.000 tahun lagi. Digambarkan setelah awan itu bertubrukan dengan sekitar 200 milyar bintang di Bima Sakti hampir sama dengan dua gelas yang berisi pasir saling dihantamkan dengan keras. Yang pasti pecahan gelas dan pasir akan berhamburan. Kejadian itu merupakan analisa ilmiah yang masuk akal dengan pembuktian-pembuktian bahwa awan hitam yang berisi hidrogen dapat dilihat melalui teleskop canggih Hubble dan berjalan mengarah pada The Milky Way dengan kecepatan 215 km/detik.

Jangan takut, kita tidak akan mengalami hal tersebut. Yang pasti bagi nalar saya kiamat masih jauh. Namun bagi keimanan kita semua, wallahualam, itu sudah menjadi hak “prerogatif” Tuhan. Apakah Tuhan akan menurunkan kiamat?

Terlalu jauh kita bertanya tentang itu. Yang pasti ada lahir pasti ada mati. Seperti semua hal yang diajarkan Tuhan pada Adam yaitu tentang semua padanan kata dan lawan kata. Kalo ada atas pasti ada penjelasan counternya yaitu bawah, kiri – kanan, keras – lunak, baik – buruk, benar – salah, menang – kalah, dan banyak lagi. Semua penjelasan yang diajarkan pada Adam selu memiliki counter/lawan kata agar Adam dapat membandingkan, merasakan dan mencerna melalui akal fikiran. Demikian pula penjelasan tentang penciptaan alam semesta yang didukung oleh banyak teori mengundang kita berfikir bahwa dulunya bumi pun tiada. Dari tiada menjadi ada menggambarkan suatu penciptaan. “Diciptakan” berpasangan dengan “dihancurkan”. Oleh karena itu kiamat pastilah ada, sama dengan “kiamat” kecil yang akan kita hadapi yaitu kematian atas konsekuensi dari dilahirkannya kita.

Kematian………. itulah kiamat yang harus kita sambut dengan persiapan yang matang dari pada memikirkan kejadian yang akan berlangsung 40juta tahun lagi. Dengan pengetahuan kata dan lawan kata yang diajarkan pada Adam, marilah kita berfikir kedalam bahwa intisari hidup adalah mati, kaya adalah miskin, kenyang adalah lapar, dst. Seseorang tidak akan pernah tahu definisi lapar apabila dia tidak tahu kenyang. Kalaupun anda sekarang merasa kaya, pasti anda pernah merasa miskin. Jika seseorang yang kita anggap kaya tapi tidak merasakan kekayaannya pasti dia akan jatuh miskin. Sama dengan kejadian Adam ketika berada di “surga” agar dapat merasakan sengsara maka dilemparkan dia ke “dunia” agar dia dapat bersukur atas pemberian Tuhan.

Oleh sebab itu, hakekat dari hidup adalah mati dan hakekat dari mati adalah hidup. Hidup adalah awal dari mati. Dan kematian merupakan pangkal dari kehidupan seperti diciptakannya alam semesta melalui tabrakan galaksi yang menghasilkan galaksi baru dan tentunya makhluk hidup baru. Tuhan tidak akan pernah menghilangkan alam semesta hanya kita akan merasakan kiamat sebagai penjelasan tentang apa yang telah kita peroleh.

Maka bersiaplah bagi yang mendapatkan “kesenangan”, kita akan memperoleh penderitaan. Namun berbahagialah mereka yang saat ini menderita karena akan mendapatkan kesenangan.

One response to “Kiamat, antara dekat dan jauh”

  1. cay says :

    melihat tulisan pian jd pingin bikin blog sndr tlng dong di ajari yang maaf kmntarnya bukan tentang tlasn kyaknya ulun belum bs mnls dg baik. smg aja di beri kmapuan utk mnls semua yang tersimpan dan yang tersembunyi dari kedlaman jiwa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: