Haji Agus Salim

Dalam sebuah rapat Sarekat Islam, almarhum KH. Agus Salim pernah saling mengejek dengan Muso tokoh penting dari Partai Komunis Indonesia. Ketika Muso berada diatas podium, dia bertanya kepada hadirin, “Saudara-saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?” Hadirin menjawab, “Kambing!” Muso bertanya kembali, “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?” Hadirin menjawab, “Kucing!”

Setelah turun podium, Agus Salim berpidato. “Saudara-saudara, orang yang tidak berjanggut dan tidak berkumis itu seperti apa?” Hadirin serentak menjawab, “Anjing!” Haji Agus Salim kemudian tersenyum dan meneruskan pidatonya.<!–baca selengkapnya

Dengan rasa bahagia yang tak terukir, kini terwujud impian yang lama terpendam. Jauh dimasa lalu, terbersit satu keinginan untuk memiliki “rumah” dengan namasendiri(dot)com. Hanya karena melihat keindahannya, kesulitannya, mahalnya dan banyak “nya” yang tak dapat disebutkan.
Cukup sudah basa-basinya kini Bejo punya rumah sendiri meskipun dimodali oleh Pak Yayat. Silahkan berkunjung dirumah Bejo yang luas, lapang, mewah, megah, dan lux.

Rumah Baru si Bejo

Kabut yang menutupi nuansa biru hatiku
Berlahan tersibak oleh pesona tautan kata-kata terukir di pesonamu.
Semerbak harum jiwaku mulai menebar biru auraku
Seiring percikan embun dari ladang jiwamu merebakkan mahkotaku.

Ah….. aku terpesona,
Laksana singa memandang padang ilalang,
Bagai kupu-kupu berterbangan diladang firdaus,
Seperti seorang gembala terhanyut akan serulingnya di lembah sepi,
Nuansa beningmu membalut hangat segenggam jiwaku.

Terus rangkai kata-kata buaianmu.
Kusandarkan hasratku menikmatimu.
Meski tiada kata dariku,
Teruskanlah dendang hatimu
Yang menjelma bagai lembah biru yang nampak direlung mataku.
Aku mengagumimu bidadari baruku.

Tulisan ini ungkapan hati yang dipersembahkan untuk seseorang yang begitu indah merangkai kata-kata dalam setiap tulisannya.

Awal mula Bejo ikutan lombanya Pak Yayat gara-gara kasih komentar di blognya teman, “Sampean niru si bejo aja. Dia ngeblok gak pingin pintar, gak pingin juara, gak pingin macem-macem. Yo cuman gara-gara menghormati pak sastro yang datang kerumahnya ngajarin dia bikin blog. Dasar Bejo, mikir manfaat ngeblog aja bingung. Apalagi pingin yg macem2 (juara)..hehehe”. Kawan Bejo itu ikutan lombanya Pak Yayat dengan nomor undian 59. Bejo ingin ngasih tahu bahwa dia bikin blog itu bukan karena pingin dapat manfaat nge-blog, tapi sebenarnya dia terpaksa nge-blog karena Pak Sastro Continue Reading »

Bejo bertandang ke-Blognya Pak Sastro dan membaca manfaat ngeblog buat dirinya. Tulisan itu diikutkan lomba yang diadakan Pak Yayat. Kalo pingin tahu apa manfaat GO BLOG silahkan aja baca-baca hasil tulisan salah satu peserta lomba disini. Semuanya memuji aktivitas nge-blog yang katanya banyak manfaatnya.
Pada intinya semua sependapat dengan tulisan kreatif Pak Sastro dan seluruh peserta tentang manfaat nge-blog. Continue Reading »

Masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Begitu kata banyak orang termasuk yang dirasakan oleh Bejo. Pada masa sekolah SMA, Bejo memang tidak berprestasi dibidang akademik. Namun dia jago berorganisasi hingga mimpin OSIS dan Pramuka. Bejo juga jago main Bola Volley. Setiap pertandingan persahabatan melawan sekolah lain dia selalu jadi spiker andalan karena loncatannya yang tinggi hingga kepalanya mampu melewati batas tertinggi net 2 meter lebih padahal tingginya hanya 172 cm. Untuk urusan organisasi Bejo sangat kritis menulis dan mengkritisi kebijakan sekolah sampai-sampai Bejo berurusan dengan Wakasek Kesiswaan karena menurut Bejo Keuangan OSIS yang dikelola Wakasek tidak transparan dan cenderung hilang entah kemana. Tapi Bejo juga jago tawuran. Setiap ada perkelahian Bejo selalu terlibat. Bejo sangat ditakuti bukan karena jago berantem, tetapi rumah Bejo yang sangat dekat dengan sekolahan  memudahkan dia memobilisasi kawan-kawannya sekampung untuk membantu dia. Jelas aja Bejo selalu menang. Itulah gambaran prestasi dan kenakalan Bejo di masa SMA tahun 90an. Kenakalan remaja pada masa itu memang banyak didominasi oleh tawuran. Continue Reading »

SMA (Sekolah Menengah Atas) is the name used in some parts of Indoneasian to describe an institution that provides all or part of “senior high school” education. The term “high school” refers to secondary and third school from years 7 to 12 for the young age 12 t0 15. Some of country define high school as secondary schools begin at Year 8 instead. Unlike most of the other countries, such as Asian and American education systems, there is no concept of a separate institution between elementary and high school.

High schools are split into the “junior” years (7-9) and the “senior” years (10-12). The junior high school, known locally as Sekolah Menengah Pertama or abbreviated by SMP, and the other part which is senior high school, known locally as Sekolah Menengah Atas and in other terms, Sekolah Menengah Umum which abbreviated as SMA and SMU. There is also one institution similar to SMA, but they were focusing on one specific career major which is known as Sekolah Menengah Kejuruan or SMK. Unfortunately, citizens of Indonesia currently looking down of SMK graduates and they were not preferable to be attended by students. Junior high is a must for all citizens of Indonesia while Senior high is not a must as Indonesia currently applying nine years of study to all citizens. It is managed by the Department of Education in Indonesia and stated in the Indonesia constitution where every citizens have the right to study. Graduate students from SMP and SMA or SMU and also SMK are achieving different educational certificate. All students of Indonesian high school must passed in the National Examination held by government. Students have the choice to leave school at year 12 or at ages 17 to 19, or continue through Year 12. All students finish years 12 in order to align with university requirements.

Lab School Kebayoran Jakarta

SMAN 8 Jakarta

SMAN 70 Jakarta

SMA Al-Ijhar Jakarta

SMA Taruna Nusantara

SMAN 5 Surabaya

SMAN 18 Surabaya

SMA Trimurti Surabaya

SMAN 1 Yoyakarta

SMAN 3 Yogyakarta

SMA Pangkalanbun

SMAN 1 Dusun Tengah Kalimantan Tengah

Bejo merujuk pasien kekota yang jaraknya 6 jam perjalanan darat menggunakan ambulan. Dalam perjalanan, mobil yang disopiri oleh bejo menabrak seekor kucing hingga mati. Kawan bejo dan keluarga pasien  berteriak ketakutan. “Wah bakalan kena sial nih kita,” ujar kawan Bejo. Dengan tenang Bejo menjawab, “yang nabrak kan saya, kalo benar nabrak kucing itu membawa sial pasti yang dapat musibah saya.” Bejo menjawab enteng karena dia gak percaya mitos-mitos seperti itu.

Rombongan sampai dirumah sakit dengan selamat. Namun pasien yang dibawa Bejo karena luka-lukanya akibat kecelakaan sangat parah meninggal setelah berada dirumah sakit selama satu jam. Tentunya matinya si pasien bukan karena nabrak kucing, tetapi akibat begadang sampai subuh sehingga pulang kerumah bermotor sambil ngantuk dan jatuh dengan sendirinya karena gak menguasai setir. Bejo sampai dirumah dengan selamat.

Dalam perjalanan beberapa hari kemudian, masih merujuk pasien, Bejo menjumpai lebih dari 10 rumah mengadakan pesta pernikahan. Ada mitos jawa yang percaya bahwa kawin dibulan Muharam (suro) akan membawa sial bagi kehidupan mempelai dikemudian hari. Tapi kawan Bejo menjelaskan bahwa orang Banjar (Dayak Banjar) percaya bukan dibulan Suro tapi bulan Safar. “Waduh!” spontan Bejo berteriak karena teringat bahwa dia kawin dibulan Safar. Tp dia pura-pura lega karena dia bukan orang Banjar. Kemudian dia teringat bahwa Bapak-Ibunya kawin dibulan Suro padahal mereka orang jawa. Tapi sampai dengan usia Bejo yang 5 tahun lagi 40, orang tua bejo sampai sekarang mensyukuri hari tua dengan rukun dan damai.

“Ah, yang penting sekarang ini jangan berfikiran negatif atau berfikir hal-hal buruk bakal terjadi. Lebih baik berfikir positif,” begitu pikir Bejo. Berfikir positif dengan memegang teguh keyakinan yang benar. “Ayo jo, kamu pasti bisa diterima PNS meski usiamu sudah lewat 35.” Mungkinkah?

Siluet, persis tontonan wayang.Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Menoleh jauh merenungi apa yang telah dilakukan mungkin saja akan membawa diri mengenal siapa sebenarnya AKU. Jika AKU berupa identitas, tentunya tak sulit untuk mengenalnya. Tinggal bertanya pada ibu yang melahirkan, bapak yang menikahi ibu, atau saudara dan keluarga yang terlahir terlebih dahulu. Melihat cermin atau gambar diri juga sangat efektif mengenal AKU. Lalu apakah benar mengenal AKU akan membawa diri mengenal Tuhan?

Seorang kawan saya telah menjadi Tenaga Kerja Sukarela (TKS) di Puskesmas Rawat Inap selama 4 tahun. Sebagai TKS, Bejo tidak mendapat gaji bulanan. Namun Bejo masih beruntung. Dia mendapat insentif sebagai tenaga profesional Rp. 350ribu / bulan, jauh dari insentif profesi guru yg konon meskipun gak profesional mencapai Rp. 2jt bebih namun sama-sama ndak dibayar perbulan tapi seenak udelnya orang yg mau mbayar. Bejo masih beruntung sebab ada kawannya yang nggak dapat insentif itu. Bejo selalu berada di tempat kerjanya setiap hari minimal 6 jam sehari. Setiap sesudah masuk 4 hari dia mendapatkan libur karena jam kerjanya peke shift pagi, sore dan malam. Setiap hari ada saja pasien yg ditolong, mulai dari sakit batuk sampai ada kepala pasien yang sudah pecah dan otaknya berhamburan minta tolong untuk divisum (maaf yg minta tolong tentu bukan si pasien tp keluarganya).

Meskipun namanya Bejo yag berarti beruntung dalam bahasa Jawa, namun nasibnya selalu “Akur” yang berarti sial, kapok, sukurin atau sesuatu yg tidak diharapkan dalam bahasa Banjar. Dia selalu gagal dalam seleksi CPNS. Nampaknya dia kalah bersaing mutu mengisi soal namun dia sendiri ndak tahu dapat nilai berapa hasil menjawab soal-soal CPNS yg nilainya gak pernah diumumkan atau gak transparan.

Nasibnya yang selalu “akur” membawa langkahnya untuk memberanikan diri menanyakan kejelasan statusnya yang telah mengabdi kepada penguasa wilayah. Bupati menjelaskan bahwa kalo si Bejo ndak lulus CPNS maka statusnya adalah TKS sampai “matek” yg artinya tidak ada jalur lain untuk menjadi PNS selain rekrutment lewat seleksi CPNS.

Bejo selalu ringan tangan menolong. Bukan saja menolong pasien tapi juga kawan-kawan seprofesi dia ditempat kerja. Kawan dia yang sudah PNS sering kali meminta izin gak masuk kerja. Ada kawannya yang cuti melahirkan selama 6 bulan, beberapa orang izin tiap hari kamis sampai minggu karena sekolah lagi, ada yang izin mengunjungi pacar di Jawa, si Tarmin gak masuk kerja karena iparnya sakit, belum lagi yang mendapatkan tugas luar seperti pelatihan, posyandu ke desa-desa, dan banyak lagi. Bejo selalu diminta tolong jaga kandang. Teman-temannya gak takut dipecat bila mbolos kerja karena belum pernah ada teguran apalagi pemecatan dari Bupati. Tapi Bejo ndak brani ikut-ikutan mbolos sebab pimpinan puskesmas lebih galak dan tidak berprikepegawaian dibanding Bupati. Bisa-bisa dia dipecat.

“Wis Jo, kamu cari kerja ditempat lain aja,” begitu nasehat kawannya setelah tahu gak ada kejelasan nasib pagi TKS. “Wah, berarti saya harus kekota,” jawab Bejo, sebab hanya dikota besar yang ada rumah sakit swasta.

“Lha kalo kamu pindah, siapa yang nggantikan kamu disini Jo?” Ada nggak yang mau menggantikan Bejo? Kalo pun ada dia orang yang paling “Goblok” di dunia,” pikir saya. Kok mau-maunya jadi TKS seumur hidup!

“Ayo siapa yang mau jadi TKS?” begitu bunyi lowongan untuk menggantikan Bejo. Eh.. tak disangka bertumpuk lamaran berada di meja pimpinan puskesmas saat ini. AKURRRR IKAM!!!!!!

Halaman Berikutnya »